Peristiwa Pemberontakan Republik Maluku Selatan

Posted on

Perjuangan bangsa Indonesia dalam melawan Kolonialisme bangsa Asing mencapai puncaknya pada tanggal 27 Agustus 1945. Meskipun demikian perjuangan tidak berhenti sampai pada proklamasi kemerdekaan dan terus melawan para penjajah sampai titik darah penghabisan.

Setelah proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia harus menghadapi ancaman Belanda yang ingin menegakan kembali kekuasaan di Indonesia. serangan demi serangan yang dilakukan oleh penjajah terus berdanagan, Bangsa Indonesia juga harus menghadapi berbagi pergolakan dan pemberontakan yang turut mengancam proses integrasi bangsa. Salah satu contohnya pada kasus pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS).

Pemberontakan RMS didalangi oleh Dr.Christion Robert Steven Soumokil, mantan jaksa Agung Negara Indonesia Timur (NIT). Tindakannya dilatarbelakangi rasa ketidakpuasan jika Negara Indonesia Timur (NIT)  harus kembali menjadi bagian Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dr. Christion Steven Soumokil bekerja sama dengan dengan Ir. Manusama dan Dr. Pattiradjawane memproklamasikan kemeredekaan Republik Maluku Selatan (RMS) di

Ambon pada tanggal 25 April 1950. Pemberontakan Republik Maluku Selatan(RMS) mendapat dukungan penuh dari pemerintah belanda dan pasukan KNIL di Ambon. Langkah pertama yang dilakukan pemerintah untuk menumpas pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) adalah melalui jalan damai.

Pemerintah Republik Indonesia Serikat mengirim dr.Leimena untuk melakukan perundingan, tetapi ditolak oleh pemerintah Republik Maluku Selatan (RMS).

Oleh karena itu jalan damai tidak berhasil dilaksanakan, pemerintah Republik Indonesia Serikat mengirim sebuah ekspedisi militer yang dipimpin Kolonel A.E. Kawilarang dan Letnan Kolonel Selamet Riyadi.

Ekspedisi militer dilaksanakan melalui Operasi Senopati I dan II. Pada tanggal 4 November 1950 Letkol selamet Riyadi memerintahkan pasukan Groep II komando pasukan Maluku Selatan (KP Malsel) untuk menduduki benteng Victoria di kota Ambon.

Akan tetapi, dalam penyerangan ini, Letkol Selamet Riyadi gugur selanjutnya, operasi senopati II dapat berhasil menguasai Ambon yaitu pada tanggal 15 November 1950. Para pemberontak Republik Maluku Selatan melarikan diri ke pulau Saparua, Haruku dan pedalaman Seram.

Soumokil tertangkap pada tanggal 3 Desember 1963. Dalam sidang Mahkamah Militer angkatan darat di Jakarta pada tanggal 24 April 1964 Soumokil dijatuhi hukuman mati, sedangkan Ir. Manusama dan Dr.Pattradjawane berhasil melarikan diri ke Belanda.