Peran Produk Olahan Sabut Kelapa Penunjang Keseimbangan Alam

Posted on

Sabut Kelapa tidak hanya menjadi sumber kerajinan untuk bisnis. Namun peran limbah sabut kelapa ini sangat membantu penunjang keseimbangan alam. Apa aja sih yang dimaksud? simak dibawah ini1

Sabut Kelapa

Peluang Usaha Olahan Sabut Kelapa

Sabut kelapa yang dikenal sebagai limbah perkebunan dapat diolah menjadi Cocomesh, cocopeat dan chipboard. Ketiga produk olahan berbahan dasar kelapa itu bermanfaat dalam upaya melestarikan ekologi dan meningkatkan pendapatan petani kelapa.

Peran Produk Olahan Sabut Kelapa Penunjang Keseimbangan Alam

1. Jaring Sabut Kelapa (Cocomesh) Untuk Pemulihan Lahan Bekas Tambang

 

Perusahaan pertambangan menjanjikan pendapatan finansial yang sangat tinggi, sehingga banyak pengusaha memilih untuk mengeksploitasi sumber daya alam seperti batu bara, emas, nikel dan timah. Fenomena ini semakin menggeser ketersediaan lahan untuk kegiatan pertanian.

Lahan bekas tambang batubara memiliki kepadatan yang tinggi dan kurang subur karena adanya penyimpanan material yang berasal dari lapisan bawah tanah, baik horizon C maupun material tanah. Lalu lintas dengan alat berat selama proses penambangan dan penyimpanan juga berperan penting dalam menciptakan permukaan yang kokoh dan menutup pori-pori tanah.

Dengan kata lain, kegiatan penambangan dimulai dengan pemotongan tutupan vegetasi tanah, pengupasan lapisan tanah atas yang relatif subur, dan kemudian penimbunan bekas areal penambangan. Hal tersebut dapat mengakibatkan terjadinya degradasi tanah yang berdampak pada perubahan sifat tanah, terbentuknya lapisan bahan baku dengan produktivitas rendah, terbentuknya asam dan garam yang dapat meracuni tanaman, rusaknya bentang alam, serta munculnya erosi dan dampak sedimentasi.

Kegiatan pertambangan berdampak pada kelestarian lingkungan dan sangat merugikan kelangsungan hidup manusia. Untuk mengatasi permasalahan lahan bekas tambang, perlu dilakukan upaya perbaikan yang bertujuan untuk menata, memulihkan, dan meningkatkan kualitas lingkungan dan ekosistem agar dapat berfungsi kembali sesuai dengan tujuannya.

Strategi kegiatan reklamasi lahan bekas tambang adalah dengan melakukan rekonstruksi lahan dan pengelolaan lahan puncak. Upaya reklamasi lahan harus memperhatikan kontur lahan yang terbentuk setelah kegiatan penambangan. Untuk mengurangi panjang lereng, lereng ditimbun kembali dalam bentuk bertingkat dengan cocomesh jaring sabut kelapa.

Cocomesh terbuat dari serat alami sehingga dapat terurai menjadi humus, murah, kuat dan tahan lama. Kemampuan Cocomesh untuk menyerap dan menyimpan air meminimalkan kemungkinan erosi tanah. Pengelolaan tanah pucuk dapat dilakukan dengan memberikan bahan perbaikan seperti bahan organik, kapur dolomit, gypsum dan abu batu bara, yang dapat memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah. Tanaman rumput dan legum dapat mengendalikan erosi dan aliran

Permukaan. Tanaman legum yang dapat dimanfaatkan antara lain Centrosema pubescens, Peuraria javanica, dan Calopogonium mucunoides. Jenis rumput yang digunakan antara lain Vetiveria zizanoides, Paspalum sp., Brachiaria decumbens, dan Panicum Maximum.

2. Pupuk Organik Berbahan Dasar Sabut Kelapa (Cocopeat)

 

Revolusi hijau yang digalakkan pada tahun 1960-an menyebabkan kerusakan lingkungan dan penurunan kesuburan tanah karena penggunaan bahan kimia yang terkandung di dalamnya kurang bijak dalam pestisida dan pupuk anorganik.

Penggunaan lahan kawasan perbatasan menjadi alternatif pemenuhan kebutuhan lahan produktif yang semakin tergeser kawasan perumahan dan industri. Perbatasan dikenal sebagai daratan dalam kondisi fisik tidak didukung secara kimiawi untuk dibudidayakan sebagai areal yang tidak diolah masukan yang masuk akal. Pengelolaan bahan organik dapat dilakukan melalui perbaikan kesuburan tanah, meningkatkan efisiensi pemupukan dan meningkatkan produktivitas tanaman.

Pertanian organik merupakan pilihan tepat untuk meningkatkan kualitas kesuburan tanah. Pertanian organik modern ialah sebagai salah satu sistem budidaya pertanian dengan bahan alami tanpa menggunakan bahan kimia sintetis . Pengembangan pertanian organik ini didasarkan pada beberapa pertimbangan mengenai kesehatan, ekologi, keadilan dan perlindungan.

Pemupukan merupakan salah satu unsur pertanian yang mendukung hasil yang lebih tinggi produktivitas tanaman. Penggunaan pupuk organik dirasa lebih murah dan mudah diterima dari petani. Menurut beberapa pendapat pupuk organik berbasis bentuknya terbagi menjadi dua jenis, yaitu pupuk organik padat dan pupuk organik cair.

Pemanfaatan limbah pertanian sebagai bahan produksi pupuk organik sangat dibutuhkan sosialisasi intensif dengan petani. Salah satu limbah pertanian yang potensial untuk Batok kelapa sedang dikembangkan sebagai bahan dalam pembuatan pupuk organik . Serat Kelapa mengandung unsur karbon (C), sehingga dapat digunakan sebagai bahan karbon aktif. Sementara kandungan unsur K2O pada abu tempurung kelapa adalah 10,25%.

Tentu saja, bahan organik terurai secara alami dengan bantuan mikroba dan biota tanah lainnya. Namun, proses pengomposan yang terjadi secara alami berlangsung lama dan lambat. Untuk mempercepat proses pengomposan, banyak teknologi pengomposan telah dikembangkan. Pengomposan yang baik dengan teknologi sederhana, sedang dan tinggi.

Pada dasarnya perkembangan teknologi pengomposan didasarkan pada proses penguraian bahan organik yang terjadi secara alami. Proses pencernaan dioptimalkan agar pengomposan dapat berjalan lebih cepat dan efisien. Teknologi pengomposan saat ini sangat penting terutama dalam mengatasi masalah sampah organik, misalnya B. mengatasi masalah sampah perkotaan, sampah organik industri, dan sampah pertanian dan perkebunan.

Teknologi pengomposan sampah sangat bervariasi, baik aerobik maupun anaerobik, dengan atau tanpa aktivator pengomposan. Aktivator pengomposan yang banyak digunakan termasuk PROMI (Promoting Microba), OrgaDec, SuperDec, ActiComp, BioPos, EM4, Green Phoskko Organic Decomposer dan SUPERFARM (Effective Microorganism) atau menggunakan Cacing mendapatkan kompos (vermikompos). Setiap aktivator memiliki kelebihannya masing-masing.

3. Chipboard Sabut Kelapa (Papan Partikel)

Sabut kelapa merupakan salah satu bahan lignoselulosa yang dapat digunakan sebagai alternatif bahan baku papan partikel (Gambar 3). Kelapa terdiri dari dua bagian yaitu kulit terluar yang tahan air dan bagian yang berserat (mesocarp). Komposisi kandungan serabut kelapa meliputi hemiselulosa (8,50%), selulosa (21,07%), lignin (29,23%), pektin (14,25%) dan air (26,0%). Selulosa adalah senyawa mirip tanah liat yang tidak larut dalam air dan ditemukan di dinding sel pelindung tanaman (Hartini et al., 2013). Dilihat dari bentuk dan ukuran seratnya, terdapat tiga jenis serat yang terdapat pada buah kelapa, yaitu:

  1. Serat yang berada di dekat kulit luar kelapa yang tampak seperti serat halus, lurus dan panjang disebut “serat benang”.
  2. Serabut yang dekat dan menempel pada tempurung kelapa tampak keriting, serabut panjang dikenal dengan istilah “serabut bulu”.
  3. Serat yang berada di dekat dan menempel pada penutup mata tumbuh dalam bentuk serat halus yang pendek yang dikenal dengan “serat mattrass”.

Teknik pengolahan arang kelapa menjadi chipboard telah banyak diteliti. Proses pembuatannya diawali dengan memotong batok kelapa secara manual menjadi partikel berukuran 5 ± 1 cm kemudian disaring untuk mendapatkan ukuran partikel yang seragam.

Berdasarkan beberapa investigasi yang dilakukan, dapat diketahui bahwa sifat fisik dan mekanik papan partikel tempurung kelapa sebagian besar sesuai dengan standar JIS A 5908-2003, tetapi nilai kembangnya tebal. Ini bukan modulus elastisitas (MOE) dan kekakuan internal memenuhi standar ini.

Nah itu lah ulasan mengenai Peran Produk Olahan Sabut Kelapa Penunjang Keseimbangan Alam. Hal ini perlu dilakukan untuk menjaga keseimbangan alam agar selalu baik baik saja. Semoga bermanfaat.