Pemanfaatan Serat Alam Sabut Kelapa

Posted on

Penggunaan serat alam sabut kelapa menjadi solusi yang terbaik yang bisa digunakan untuk menjaga keseimbangan alam, bisnis juga. Apa saja yang bisa dilakukan dalam pemanfaatan serat alam sabut kelapa? yuk simak!

Serat Alam Sabut Kelapa

Serat Alam Sabut Kelapa

Karena keunggulannya dibandingkan serat sintetis, serat alam merupakan solusi yang kuat untuk berbagai material komposit polimer. Serat alami sangat mudah didapat dengan harga murah, simpel diproses, kepadatan rendah, ramah lingkungan dan biodegradable.

Material fiber komposit memiliki keunggulan utama yaitu kuat (strong), stiff (tangguh) dan lebih tahan terhadap panaskan dalam matriks. Di Indonesia, penggunaan sabut kelapa (cocofiber) belum diterapkan atau ditangani dengan baik sehingga menjadi limbah yang tidak dapat digunakan lagi.

Selama ini pemanfaatan sabut kelapa dalam skala kecil. Misalnya dalam pembuatan sapu, keset dan alat rumah tangga lainnya. Sedangkan sabut kelapa dapat digunakan untuk industri karpet, back filler, dashboard, matras, genteng, dan plafon. Untuk itu diperlukan pelatihan tentang bagaimana pemanfaatan serat alam (batok kelapa dan jerami) menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis guna memperkuat ekonomi mikro berbasis berbagai produk olahan kelapa.

Berdasarkan analisis situasi, permasalahan yang dihadapi berdasarkan analisa yaitu minimnya pengetahuan tentang pemanfaatan limbah tanaman pertanian seperti batok kelapa dan jerami padi. Solusi yang diberikan adalah pelatihan bagaimana mengolah sampah menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat, bernilai ekonomis dan berdampak positif bagi lingkungan.

Salah satu cara untuk melakukannya adalah dengan mendaur ulang sampah menjadi komposit alami hanya dengan menambahkan matriks murah yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan.

Metode yang digunakan adalah ceramah, diskusi dan demonstrasi. Setelah musyawarah semakin jelas bagi masyarakat akan pentingnya pemahaman tentang pemanfaatan limbah pertanian seperti jerami padi dan sabut kelapa yang dapat dengan mudah dibuat menjadi komposit yang dapat bermanfaat untuk berbagai keperluan

Kelapa Kelapa merupakan salah satu penyusun buah kelapa yang apabila diolah dan ditambang dapat menjadi produk yang dibutuhkan untuk pasar dalam negeri bahkan menjadi produk dengan nilai ekspor yang tinggi. Sabut kelapa (cocofiber) dan sabut kelapa (cocopeat) merupakan dua turunan dari sabut kelapa yang melalui beberapa penelitian dapat diubah menjadi bahan penahan beban dan furniture untuk penggunaan di dalam ruangan, diantaranya isi matras (matras) dan sofa bed, serta papan partikel serupa MDF yaitu Coconut Fiber Board (CFB).

Penggunaan Sabut Kelapa Di Indonesia

Di Indonesia penggunaan sabut kelapa (cocofiber) belum dilaksanakan atau ditangani dengan baik sehingga mengakibatkan limbah kurang bermanfaat. Sabut kelapa merupakan salah satu bahan serat alam yang digunakan dalam pembuatan komposit ilmiah yang saat ini masih terus diteliti. Selama ini pemanfaatan sabut kelapa dalam skala kecil. Misalnya di

Pembuatan sapu, tikar dan barang rumah tangga lainnya. Sabut kelapa dapat digunakan untuk bahan industri permadani, pengisi sandaran punggung, dashboard, kasur, ubin, dan plafon. Kelapa-kelapa banyak digunakan karena sifatnya yang tangguh, tahan lama, kuat terhadap gesekan, tidak mudah pecah, tahan air, tidak mudah busuk, tahan terhadap jamur dan hama, serta tidak dihuni rayap atau tikus. Oleh karena itu kelapa-kelapa menjadi salah satu alternatif pengembangan komposit karena selain murah, juga mudah didapat dan juga sangat umum.

Salah satu keunggulan kelapa kelapa dalam dunia industri adalah pabrikan mobil Daimler-Bend juga telah menggunakan sabut kelapa sebagai bahan baku dashboard kendaraan dan sebagai bahan baku pembuatan jok dan interior kendaraan. Keunggulan buah kelapa sebagai pengisi jok mobil adalah memiliki gaya yang fleksibel

Ini sangat bagus, tahan lama, tidak berbau dan memiliki sedikit polusi. Pengolahan buah kelapa terutama turunannya masih berpeluang bagus cukup besar. Dan saat ini kebanyakan industri pengolahan buah kelapa tapi kebanyakan masih fokus pada pengolahan pulp sebagai produk utama, sedangkan industri pengolahan hasil samping buah seperti air, kelapa dan batok kelapa masih diproses secara tradisional.

Berdasarkan data e-smartschool, batok kelapa merupakan bagian yang cukup besar dari buah kelapa, yaitu 35% dari total bobot buah. Kelapa terdiri dari serabut dan gabus yang menghubungkan satu serat dengan serat lainnya. Serat adalah komponen kelapa yang berharga.

Setiap butir kelapa mengandung 525 gram serat (75% kelapa) dan 175 gram gabus (25% kelapa). Dengan rata-rata produksi buah kelapa Indonesia sebesar 15,5 miliar butir per tahun, setara dengan 1,8 juta ton sabut kelapa dan 3,3 juta ton serbuk kelapa (Agustian et al., 2003; Allorerung & Lay, 1998; Anonim, 2000; Nur et al. al., 2003; APCC, 2003) maka cukup banyak bahan tersedia.

Namun ketersediaan bahan baku yang cukup sedikit belum dimanfaatkan secara optimal untuk membangun industri pengolahan hasil samping kelapa, khususnya kelapa. Tidak mengherankan jika kita masih belum mampu mengimbangi tingginya permintaan turunan kelapa dari luar negeri, terutama untuk produk berbahan dasar kelapa.

Sabut Kelapa

Sabut kelapa ini dapat dikembangkan menjadi berbagai oalahan produk, diantaranya seperti Cocopeat, Cocofibre, Cocomesh, Cocopot, Coco Fiber Board, dan Cococoir. Bahan ini adalah bahan baku kasur, pot, kompos kering dan lain sebagainya. Jika hanya mengolah buah kelapa menjadi pulp, harga kelapa tertinggi masih merupakan pendapatan yang sangat rendah bagi petani untuk hidup layak.

Salah satu upaya untuk meningkatkan pendapatan petani kelapa adalah dengan mengolah semua komponen buahnya menjadi produk yang bermutu, sehingga nilai buah kelapa semakin meningkat. Misalnya batok kelapa yang dijadikan arang kerang dan arang aktif bisa menambah nilai ekonomis kelapa. Sehingga nilai ekonomis kelapa tidak lagi berbasis kopra (pulp) seperti

Di Filipina, 49% dari total ekspor ($ 920 juta) tidak berasal dari CCO. Kelapa Kelapa dapat dibuat menjadi berbagai macam produk jadi dan setengah jadi yang memiliki nilai jual tinggi. Produk-produk tersebut antara lain: tali kelapa, alas, serabut kelapa (Cocofaser), serbuk kelapa (Cocopeat), serbuk kelapa padat (Cocopeatbrick), Cocomesh.

Contoh Olahan Sabut Kelapa

1. Cocomesh

 

Cocomesh adalah jaring – sabut kelapa yang dibuat dari 100% sabut kelapa alami yang saat ini menjadi solusi dalam membantu proses reklamasi tambang, pantai, atau hutan. Sifat yang dimiliki cocomesh biodegradable dan kuat, membantu mempermudah tumbuhnya tanaman baru pada bidang cocomesh  yang diletakkan di tanah bekas tambang.

Dengan menggunakan cocomesh telah terbukti mampu menghijaukan areal bekas tambang, atau hutan yang gundul.  Saat ini banyak juga yang melakukan bisnis jual cocomesh. Karena selain mengurangi limbah ,olahan sabut kelapa ini juga bisa menjadi pundi pundi keuangan.

2. Cocopot (Pot Sabut Kelapa)

Definisi cocopot ialah sebagai tempat untuk tanaman yang dibuat dari serabut kelapa sama halnya dengan pot-pot  tanaman lainnya tetapi kalau pot tanaman lainnya ada yang terbuat dari plastic, semen, tanah liat dan sebagainya. Dan Cocopot ini sangat potensial digunakan sebagai tempat tanaman yang ramah akan lingkungan (Eco-friendly).

Nah itulah beberapa ulasan mengenai pemanfaatan serat alam sabut kelapa. Hal ini bisa dijadikan gambaran untuk lebih memanfaatkan limbah sabut kelapa. Semoga bermanfaat.