Olympus OM-D E-M10 – Contoh Dari Sebuah Era Baru

Posted on

Olympus OM-D E-M10 – Contoh Dari Sebuah Era Baru

Sewa Lighting Panggung Jakarta – Contoh utama dari era kamera baru yang kecil, ringan dan lebih baik dari DSLR kelas bawah, Olympus OM-D E-M10 mengombinasikan semua keunggulan generasi DSLM baru. Melihatnya pertama kali, E-M10 terlihat seperti kamera kompak high-end, namun penampilan bisa menipu. Karena tak seperti kamera kompak biasa, E-M10 bukan hanya bisa digonta-ganti lensanya, namun juga memiliki sensor yang lebih besar yang akan disukai fotografer. Semenjak sistem kamera mirrorless (disingkat DSLM) diperkenalkan pada tahun 2008, era baru fotografi muncul dan mulai tak bisa dibendung.

Di tahun 2014, kamera DSLM yang beredar di pasar jumlahnya meningkat tiga hingga empat kali. Salah satunya adalah Olympus OM-D E-M10 yang ditujukan untuk pemula dan fotografer amatir. Jadi, selain kualitas foto yang dihasilkan serta kelengkapannya, penting untuk mempertimbangkan bobot kamera juga. E-M10 membuktikan dirinya sebagai model yang layak unutk menggantikan kamera DSLR amatir. Bagi saipa saja yang pernah memakai Canon EOS 60D, EOS 650D atau bahkan EOS 60D, mungkin akna terkejut dengan apa yang bisa dilakukan E-M10 dengan sensor Four Third kecilnya yang bukan hanya bisa menandingi, namun kualitas fotonya juga kadang terlihat lebih baik.

Hal yang sama juga berlaku saat membandingknnya dengan Nikon D5200 atau D7000. Dalam hal ketajaman dan detil, E-M10 mampu menandingi kamera DSLR tradisional. Feature hebat, kecepatan tinggi Keunggulan E-M10 bukan hanya dalam hal kualitas foto saja, feature kamera yang disertakan pun setara dengan DSLR. 91 titik fokus dalam kamera ini membuktikannya. Selain itu, masih ada layar sentuh yang bisa dilipat, stabilizer berbasis sensor, fungsi manual yang banyak, dan koneksi Wi-Fi. Jika Anda ingin upgrade dari DSLR, maka Anda harus membiasakan diri dengan jendela bidik elektronik.

Ukuran Sensor Kompetisi Sengit

Apakah sensor APS-C lebih bagus dibanding Four Third Dan kamera full frame hanya untuk profesional Rasanya ungkapan itu sudah usang. Belum lama ini, dunia seolah terbagi menjadi tiga bagian kelas sensor. Selain sensor ukuran kecil yang diusung kamera kompak, terdapat juga senaor APS-C yang sering diasosiasikan dengan kamera DSLR kelas bawah dan menengah. Sementara sensor full-frame hanya dipasang di kamera DSLR profesional. Pembagian ini telah mengerucut belakangan. Semua menyatu di kamera berukuran kecil. Kini, sensor lebar 1 inci mendongkrak kualitas fotoke tingkat berikutnya.

Kamera DSLM terutama sistem Micro Four Third yang dikeluarkan tahun 2008 menjadi kompetitor baru. Pabrikan seperti Olympus dan Panasonic mengusung standar tersebut. Sensor Four Third memang lebih kecil dibanding sensor APS-C. Asumsinya adalah sensor sekecil itu pasti performanya lebih jelek, ini adalah miskonsepsi yang terjadi selama ini. Sensor four third bisa bersaing dengan APS-C. Bagaimana dengan sensor full format Dengan kamera seperti Canon EOS 6D atau Nikon D610, sensor ukuran kecil menjadi lebih terjangku bagi fotografer amatir.