Faktor penyebab terjadinya perubahan kebudayaan

Posted on

Ada dua faktor utama yang mempengaruhi bentuk perubahan budaya sebagai dibahas dalam beberapa forum Indonesia culture , yaitu faktor-faktor dari dalam (internal) atau faktor eksternal (eksternal). Faktor internal termasuk penemuan, penemuan (penemuan), inovasi (inovasi) dan ensulturasi, sedangkan untuk faktor-faktor yang berasal dari luar (eksternal) termasuk difusi, akulturasi, penetrasi, asimilasi, invasi, hibridisasi.

A. Faktor dari Dalam (internal)

  1. Discovery merupakan penemuan dari suatu unsur kebudayaan yang baru, baik yang berupa suatu alat baru, atauapun yang berupa suatu ide baru yang diciptakan oleh seorang individu. Atau bisa juga dikatakan sebagai suatu rangkaian ciptaan-ciptaan dari individu-individu dalam masyarakat yang bersangkutan. Contoh penemuan baru untuk faktor discovery misalnya; mobil, sepeda motor, handphone, tablet dan sebagainya.
  2. Invention (invensi) adalah adanya pengakuan, penerimaan dan penerapan dari suatu masyarakat atas penemuan baru (discovery) tersebut. Hal ini disebabkan karena untuk membuktikan bahwa seorang individu itu telah menemukan suatu yang baru membutuhkan tidak hanya satu individu atau penemu/pencipta saja, akan tetapi harus ada rangkaian-rangkain dari pencipta atau penemu hal yang baru tersebut. Penemuan sebuah mobil misalnya, merupakan suatu rangkaian penemuan dari motor gas pada tahun 1875 sampai pada bentuk mobil yang dapat dipakai sebagai alat pengangkutan pada tahun 1911.
  3. Innovation (inovasi) terjadi apabila hasil penemuan baru tersebut, misalnya mobil, disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat sebagai alat angkutan, sedangkan masyarakat juga harus menyesuaikan diri dengan kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan oleh sebuah mobil, misalnya ada sopir, bensin, solar, bengkel, onderdil, montir, jalan raya dan sebagainya. Adanya pendorong atau motivasi yang menyebabkan individu-individu untuk mencari penemuan-penemuan baru adalah :
    1. Kesadaran akan kekurangan dalam kebudayaan
    2. Kualitas dari ahli-ahli dalam suatu kebudayaan
    3. Perangsang bagi penciptaan-penciptaan baru
  4. Proses Enkulturasi atau “pembudayaan” ini terjadi ketika seorang individu mempelajari dan menyesuaikan alam pikiran serta sikapnya dengan sistem norma dan peraturan-peraturan yang hidup dalam kebudayaannya. Jadi sejak seorang individu itu masih kecil itu proses enkulturasi sudah dimulai dalam alam pikirannya. Bermula dari keluarganya (pendidikan, kasih sayang dan sebagainya), kemudian berlanjut ke teman-teman sepermainan. Seringkali ia belajar meniru berbagai macam tindakan, setelah perasaan dan nilai budaya yang memberi motivasi akan tindakan meniru itu telah dinternalisasikan dalam kepribadiannya. Dengan berkali-kali meniru maka tindakannya menjadi pola yang tetap, dan norma yang mengatur tindakannya itu “dibudayakan”

B. Faktor-Faktor dari Luar (eksternal)

  1. Difusi adalah suatau proses penyebaran unsur-unsur kebudayaan dari orang perorangan kepada orang perorangan lainnya, dan dari suatu masyarakat ke masyarakat lain, dari bangsa ke bangsa lain. Ada dua tipe difusi, yaitu difusi intra-masyakat (intra society diffusion) dan difusi antar masyarakat (inter society diffusion). (Akan dijelaskan secara detail pada posting berikutnya)
  2. Akulturasi atau acculturation atau culture contract adalah mengenai proses sosial yang timbul bila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertetentu dihadapkan pada unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing itu lambat laun akan diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menghilangkan kepribadian kebudayaan itu sendiri. (untuk selengkapnya akan dibahas pada posting berikutnya)
  3. Asimilasi (assimilation) adalah proses yang timbul apabila golongan-golongan manusia dengan latar belakang kebudayaan berbeda-beda saling bergaul langsung secara intensif dan terus menerus dalam jangka waktu yang lama sehingga kebudayaan golongan-golongan tadi, masing-masing berubah sifatnya yang khas dan juga unsur masing-masing kebudayaan berubah wujudnya menjadi unsur-unsur kebudayaan campuran.
  4. Penetrasi adalah masuknya unsur-unsur kebudayaan asing dari luar ke suatu daerah. Masuknya unsur-unsur kebudayaan asing tersebut bisa terjadi secara damai ( penetration pacifique) maupun secara paksaan.
  5. Invasi adalah penyerangan dari suatu negara atau bangsa ke negara atau bangsa lainnya yang bertujuan untuk menduduki daerah milik bangsa atau negara lain dengan maksud menjalankan penjajahan atas bangsa yang ditaklukannya dengan melenyapkan atau meminimalisir kebudayaan asli suatu bangsa.
  6. Hibridisasi adalah perkawinan campuran di antara kelompok ras manusia yang berbeda, yang menghasilkan ciri-ciri ragawi yang bersamaan, yang disebabkan oleh komponen rasial yang bersamaan. Hibridisasi dapat terjadi sejalan dengan migrasi kelompok-kelompok mansuia, misalnya pada zaman berburu tingkat lanjut (zaman Mesolitikum). Pada masa berburu tingkat lanjut ini, tidak saja terdapat pantangan “inces” (perkawinan antar anggota keluarga sedarah), tetapi diduga dalam banyak hal telah berlangsung exogami atau perkawinan yang terjadi di luar klan. Sebagai contoh percampuran antara ras Papua Melanesoide, Europaeide dan Mongoleide yang menghasilkan bangsa Austronesia (nenek moyang bangsa Indonesia) di Asia Tenggara.